Rabu, 13 Oktober 2010

Pacaran Dalam Kacamata Islam.

Pacaran suatu hal yang sudah lazim di zaman sekarang, terutama di kalangan muda atau ABG, justru yang malah dianggap aneh kalau ada anak ABG yang nggak pacaran. Bicara soal pacaran tentu nggak terlepas dari yang namanya masalah cinta, dengan alasan inilah maka para muda mudi berjanji setia untuk saling berbagi kasih dengan si dia (cieee....) bahkan sampai ada yang rela mempertaruhkan kegadisan dan keperjakaannya hanya atas dasar cinta semata.

Lalu sekarang bagaimana masalah pacaran ini jika kita tilik dari hukum islam. Tapi sebelum kita bicara lebih jauh perlu kita lihat dulu motifasi apa yang mendasari seseorang untuk berpacaran.

Kalau masih ABG tentu belum kefikiran untuk menikah lha wong masih pelajar, tapi banyak diantara mereka yang juga pacaran walaupun belum tentu akan menikah alasannya klise saja, aku suka sama dia dan dianya juga suka sama aku ,tembak, jadian dan pacaran.

Alasan yang kedua orang berpacaran adalah untuk lebih mengenal pribadi masing-masing sebelum akhirnya mereka berdua menemukan saling kecocokan untuk kemudian menikah. Ini biasanya terjadi pada orang-orang yang sudah cukup matang usianya untuk menikah.

Nah...sekarang kita lihat dalam literatur islam bahwa seorang pemuda diharuskan untuk menahan pandangannya dari hal-hal yang diharamkan termasuk perempuan yang bukan muhrimnya. Lalu kemudian ada juga dasar lain yaitu janganlah engkau mendekati zina. Mendekati saja nggak boleh apalagi melakukan. Hal-hal yang saya sebutkan dimuka, yang dijadikan suatu tolak ukur dalam memandang pacaran dari kacamata ajaran islam.

Lalu kita lihat sekarang fakta yang ada, yang namanya aktifitas pacaran tentu nggak lepas dari yang namanya janjian buat ketemuan, jalan berduaan, gandeng tangan, pelukan, ciuman bahkan sampai mengarah kepada seks bebas. Nah...kalau gaya pacarannya macam gini gimana dong, tentu saja hal ini dilarang dalam islam karena semua perbuatan diatas adalah merupakan hal-hal yang mendekati kepada perbuatan zina, bahkan sudah termasuk kategori zina. Yaitu zinanya mata dengan melihat, zinanya tangan dengan memegang serta bentuk-bentuk zina yang lainnya.

Lalu bagaimana dengan mereka yang pacaran untuk serius, maksudnya mereka pacaran dengan alasan untuk lebih mengenal pribadi masing masing agar supaya didapati kecocokan sehingga mereka siap untuk melangkah ke jenjang yang lebih lanjut yaitu pernikahan.

Kita lihat faktanya, banyak kok yang sudah pacaran bertahun-tahun sampai karatan ternyata pas sudah menikah ternyata pernikahannya cuman seumur jagung. Dan ada juga tuh pasangan yang nggak pakai pacaran tapi setelah menikah mereka malah bisa langgeng. Jadi efektif nggak sih....pacaran sebelum nikah dengan alasan supaya saling mengenal pribadi masing-masing.

Karena secara psikologis, kalau sudah saling cinta trus pacaran...yang ditampilkan didepan kekasihnya tentu saja cuman sekedar topeng belaka. Kalau di depan si dia saja, jadi alim banget atau jadi baik banget, atau jadi sok lembut dan penuh perhatian. Pas dulu waktu pacaran, kalau misalnya ceweknya lagi jalan trus kesandung si cowok pasti bilang :”hati-hati dong say...”, dan setelah menikah misalnya si istri pas jalan kesandung, yang keluar dari mulut si suami bukannya perhatian malah cacian :”matamu kamu taruh mana, nggak lihat apa kalau ada batu !!!!” ( hahaha..sadis banget ya..)

Itu salah satu contoh bentuk-bentuk kamuflase yang dilakukan oleh pasangan ketika masih pacaran, dan beda banget keadaannya ketika pasangan tersebut sudah menikah.

Jadi kesimpulannya pacaran selain dilarang oleh agama, ternyata bukan suatu cara yang efektif untuk menilai calon pasangan kita.
Anda sedang membaca Artikel tentang Pacaran Dalam Kacamata Islam. ndan anda bisa menemukan Artikel Pacaran Dalam Kacamata Islam. ini dengan URL http://laylawaty.blogspot.com/2010/10/pacaran-dalam-kacamata-islam.html, Anda boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste nya jika Artikel Pacaran Dalam Kacamata Islam. ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda, Namun jangan lupa untuk meletakkan Link Pacaran Dalam Kacamata Islam. sebagai Sumbernya.

4 komentar:

  • Soe86 says:
    13 Oktober 2010 pukul 21.51

    Jadi Islam melarang pacaran? Gimana klo misalnya perasaan yang ada disimpen aja g sampai pada perbuatan, tapi kedua belah pihak "sepakat" bahwa itu pacaran? Misalnya Aku (Cowo) dengan Dia (cewe), mengaku pacaran tapi tetap menjaga jarak dan pandangan, yang main hanya perasaan aja, kayak TV Rusak, ada suara g ada gambar, wkwkwk

    Emang SADIS gaya pacaran sekarang, katanya g gaul atau ketinggala jaman. Tapi gaya pacaran orang dulu yang "MANTAP", hanya berhubungan lewat surat, takut ketemuan apalgi berduaan.

  • Soe86 says:
    13 Oktober 2010 pukul 21.57

    Tambah neh... Tadi kayak TV Rusak... ganti dengan Radio. Pacaran Gaya fans bola yang mengikuti pertandingan lewat radio. Yang ada cuma suara, g ada gambar, tapi serunya muannnntappp abiz...

    "Bambang Pamungkas membawa bola, APA YANG TERJADIIIIII OOOOOOOOOOOO GAAAAGAL SAUDARA-SAUDARA" WKWKWKWKW

    Maaf klo bercandanya kelewatan. Maksud aku tuh, gimana klo gaya pacarannya kayak gitu La?

  • Ella says:
    13 Oktober 2010 pukul 22.34

    Nice comment sob...., jadi ceritanya HTS nih...hubungan tanpa status. begini ya..sob..kalau yang namanya menyukai lawan jenis itu manusiawi. tapi yang jadi permasalahannya adl bagaimana mengimplementasikan perasaan ini, nah..kalau bentuknya pacaran yg kayak diatas itu jelas dilarang oleh agama. tapi kalau misalnya kedua belah pihak sepakat untuk mencintai walaupun nggak pacaran. kayaknya sih..boleh-boleh saja. asal dengan syarat bahwa kita harus bisa benar-benar menjaga diri kita dari godaan syetan yang terkutuk. tapi kalau pacarannya kayak gini, ini bisa dibilang pacaran apa nggak ya... ??? mending berteman saja deh...nggak usah pake komitmen lebih aman dan lebih bisa menjaga hati kita.

  • Soe86 says:
    14 Oktober 2010 pukul 00.17

    Bener juga ya... ngapain bikin komitmen? jadi sahabatlah barangkali lebih bagus... Banyak godaan jika udah ada komitmen... betul3...

Posting Komentar